Rukun Haji


Yang dimaksud bersama dengan rukun haji yakni serangkaian amalan-amalan yang kudu ditunaikan dalam ibadah haji. Apabila tidak mengerjakan maka tidak sempurna ibadahnya yang berakibat tidak sah (batal) hajinya dan tidak sanggup diganti bersama dengan membayar dam atau denda (Depag,2009:7).
Adapun rukun haji yakni :
1) Ihram / niat
Untuk mengawali pelaksanaan ibadah haji di awali bersama dengan berihram. Yang dimaksud bersama dengan ihram terdiri berasal dari Mengenakan pakaian ihram, melafazkan niat di miqat makani, dan juga diiringi bersama dengan membaca kalimat talbiyah. Semenjak ihram diikrarkan diharamkan hal-hal yang terlarang selama dalam kondisi berihram.

2) Wukuf di Arafah
Makna wukuf Arafah yakni berhenti atau berada di Arafah dalam kondisi ihram terhadap selagi tertentu. Keberadaan seseorang di Arafah menjadi sah walau sejenak bersama dengan rentangan selagi sejak tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzulhijah sampai bersama dengan terbit fajar tanggal 10 Dzulhijah.
Wukuf di Arafah termasuk salah satu rukun yang paling utama. Bagi jamaah yang tidak lakukan wukuf di Arafah bermakna tidak mengerjakan haji. Hal ini sesuai bersama dengan sabda Nabi Saw. yang bermakna “ haji itu di Arafah, barang siapa yang mampir terhadap malam hari ( 10 dzulhijah sebelum terbit fajar) maka sebetulnya ia tetap beroleh haji ” (Depag:2001,53).
Pelaksanaan wukuf di awali bersama dengan mendengarkan khutbah wukuf dan dilanjutkan bersama dengan shalat jama’ qashar taqdim Dzuhur dan Ashar. Wukuf sanggup ditunaikan bersama dengan berjama’ah atau sendirian. Kegiatan selama wukuf diisi bersama dengan memperbanyak istighfar, zikir, dan do’a sesuai bersama dengan sunnah Rasulullah SAW. Wukuf tidak disyariatkan suci berasal dari hadats besar atau kecil. Oleh {karenanya|sebab itu|karena itu|maka berasal dari itu} wanita tengah haid atau nifaspun boleh lakukan wukuf.

3) Tawaf ifadhah
Thawaf ifadah adalah thawaf yang ditunaikan sesudah meninggalkan Arafah. Tawaf ini tidak boleh ditinggalkan serupa sekali, gara-gara ia termasuk rukun haji, seandainya tidak ditunaikan hajinya tidak sah, dan tidak sanggup diganti bersama dengan membayar dam (denda). Jika ia tetap berniat haji maka kudu ulangi tahun berikutnya.
Pelaksanaannya yakni mengililingi ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali putaran yang di awali berasal dari garis sejajar hajar aswad dan berakhir di garis sejajar hajar aswad (Depag, 2001:41). Thawaf ini kudu ditunaikan secara terus-menerus antara putaran ke 1 (satu) sampai putaran ke 7 (tujuh).

4) Sa’i
Yang dimaksud bersama dengan sa’i adalah terjadi ( berlari-lari kecil) berasal dari bukit Safa ke bukit Marwa atau sebaliknya sebanyak 7 (tujuh) kali perjalanan. Sa’i merupakan salah satu rukun haji yang kudu ditunaikan dan seandainya tidak ditunaikan membawa dampak batalnya haji seseorang.
Pelaksanaannya di awali berasal dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwa atau sebaliknya. Masing-masingnya dihitung 1 (satu) kali perjalanan, dilaksankan secara terus-menerus antara perjalanan ke 1 (satu) sampai perjalanan ke 7 (tujuh). Sa’i cuma ditunaikan sesudah tawaf rukun baik untuk ibadah umrah atau ibadah haji.

5) Tahalul
Yang dimaksud bersama dengan tahalul adalah menaggalkan ihram gara-gara udah selesai lakukan amalan-amalan haji seutuhnya atau sebagiannya, yang ditandai bersama dengan bercukur (gundul) atau memotong {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} helai rambut (Abdul Azis Dahlan,1996:485). Tahalul menunjukan kondisi seseorang yang dibolehkan lakukan tingkah laku yang di awalnya dilarang terhadap selagi berihram haji.
Tahalul itu tersedia dua macam yakni tahalul awal dan tahalul tsani. Yang dimaksud bersama dengan tahalul awal adalah seseorang yang udah menyelesaikan dua salah satu tiga tingkah laku yakni melontar jumrah aqabah, memotong rambut (bercukur), atau tawaf ifadah dan sai. Sedangkan tahalul tsani adalah seseorang yang udah menyelesaikan tiga tingkah laku berikut yakni melontar jumrah aqabah, bercukur, tawaf ifadah dan sa’i. Sesudah tahalul tsani jamaah yang bersuami istri udah halal lakukan interaksi (jima’).

6) Tertib
Dari enam rukun haji berikut yang ditunaikan cuma lima rangkaian kesibukan (amalan), tetapi rukun yang keenam (tertib) mengatur tentang tata rangkaian yang kudu ditunaikan berasal dari awal sampai bersama dengan selesai.

d. Wajib dan sunat haji
1) Wajib haji
Yang dimaksud bersama dengan kudu haji adalah rangkaian amalan yang kudu ditunaikan dalam ibadah haji, dan seandainya tidak ditunaikan maka hajinya tetap sah namun kudu diganti bersama dengan membayar dam (denda). Sesuatu yang kudu dipahami bahwa seandainya sengaja meninggalkannya bersama dengan tidak tersedia uzur syar’i yang membolehkannya maka tingkah laku itu adalah dosa.
Adapun kudu haji terdiri berasal dari :
a) Ihram berasal dari miqat
Yang dimaksud bersama dengan miqat dalam ibadah haji adalah batas selagi atau daerah melafazkan niat lakukan ibadah haji atau umrah.
b) Mabit di Muzdalifah
Mabit di Muzdalifah adalah berhenti (bermalam) sejenak di Muzdalifah bersama dengan kesibukan berdo’a atau berzikir sampai lewat tengah malam terhadap tanggal 10 dzulhijah. Bagi yang mampir di Muzdalifah sebelum tengah malam, maka kudu menanti sampai lewat tengah malam.
Mabit sanggup berhenti sejenak istirahat dalam kendaraan atau turun berasal dari kendaraan ke padang pasir. Pada selagi itu diberikan kesempatan untuk melacak krikil (batu) yang dapat dipergunakan melontar jamarah di Mina. Setelah lewat tengah malam jamaah berangkat menuju Mina.
c) Mabit di Mina
Yang dimaksud bersama dengan mabit di Mina adalah kondisi jamaah bermalam (istirahat) di Mina terhadap hari-hari tasyrik. Jamaah haji yang mabit di Mina terhadap tanggal 11 sampai 12 Dzulhijah dan meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam disebut Nafar awal. Sedangkan jamaah yang tetap tinggal di Mina sampai bersama dengan tanggal 13 Dzulhijah disebut Nafar tsani.
d) Melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah
Melontar jamarah maksudnya adalah melontar (melem parkan) batu krikil kedinding marma (bata) jamarah terhadap hari-hari yang udah ditentukan. Melontar jamarah ditunaikan terhadap hari Nahr dan hari tasyrik.
Pelaksanaannya terhadap tanggal 10 dzulhijah cuma melontar untuk jumrah aqabah saja. Waktu afdhalnya adalah kala selagi dhuha. Sedangkan terhadap hari tasyrik yakni tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijah melontar ketiga jamarah ula, wustha dan aqabah.
e) Tawaf wada’
Tawaf wada’ adalah tawaf perpisahan (pamitan) bersama dengan ka’bah yang kudu ditunaikan seseorang yang dapat meninggalkan kota Mekah. Pelaksanaannya mengengelilingi ka’bah sebanyak 7 (tujuh) putaran secara berkesinambungan, dan tidak diikuti bersama dengan sa’i.

2) Sunat-sunat Haji
Pengertian sunat menurut arti syara’ yakni amalan-amalan seandainya ditunaikan beroleh pahala dan seandainya ditinggalkan tidak dikenakan apa-apa (Depag,2001:14). Ibadah sunat dalam berhaji ditunaikan seiringan dalam lakukan ihram, wukuf, mabit, melontar jmaarat, tawaf ifadhah, sa’i dan tahalul.
Beberapa perumpamaan amalan-amalan sunat sewaktu berihram seperti, mandi sebelum ihram, Mengenakan wangi-wangian, memotong kuku, merapikan kumis atau jenggot, Mengenakan kain ihram warna putih, ihram sesudah shalat, membaca talbiyah, menjauhkan tabiat tercela, dan direkomendasikan banyak berzikir dan talbiyah.

3. Ketentuan Tentang Ibadah Umrah
a. Pengertian dan Hukum Ibadah Umrah
Umrah menurut syar’i bermakna mampir ke ka’bah ( baitullah ) di Masjidil Haram untuk beribadah bersama dengan lakukan amalan-amalan sebagai berikut yakni ihram, tawaf, sa’i, tahalul (Depag,2000:4). Umrah merupakan suatu ibadah yang ditunaikan sebagai wujud kepatuhan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. gara-gara tetap menghendaki keridhaan-Nya.
Hukum ibadah umrah adalah kudu sebagaimana wajibnya ibadah haji. Hal ini sesuai bersama dengan firman Allah SWT yang artinya; “ dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah gara-gara Allah” (Q.S Al-Baqarah,196).
Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa Abu Rozim mampir kepada Nabi SAW. dan berkata; Ya Rasulullah sebetulnya ayahku udah tua sekali, tidak sanggup berhaji, tidak sanggup berumrah, tidak sanggup berpergian, Rasulullah bersabda; “ Hajikan untuk ayahmu dan umrahkan” (Depag:2009,6).
Sedangkan yang lakukan untuk umrah ke-2 kali atau lebih hukumnya sunat, jika orang yang udah bernazar, maka ia kudu mengerjakannya. Waktu mengerjakannya sanggup ditunaikan kapan saja, jika terhadap hari-hari yang terkonsentrasi jamaah bersama dengan kesibukan mengerjakan haji, layaknya hari arafah, hari nahar, dan hari tasyrik.

b. Syarat-syarat kudu umrah
Apabila kriteria berikut ini terpenuhi, maka wajiblah seseorang lakukan umrah, kriteria itu adalah:
a) Islam
b) Baligh (dewasa)
c) Berakal sehat
d) Merdeka (bukan hamba sahaya)
e) Mampu (istitha’ah)
c. Syarat sahnya umrah
a) Islam
b) Tamyiz
c) Berihram ditunaikan terhadap daerah miqat ( miqat makani).

d. Rukun umrah yakni :
Rangkaian amalan yang kudu ditunaikan dalam pelaksanaan ibadah umrah terdiri berasal dari :
a) Ihram / niat
b) Tawaf
c) Sa’i
d) Tahalul
e) Tertib
Rukun umrah yang ditunaikan cuma empat kesibukan (amal an), tetapi rukun yang kelima (tertib) mengatur tentang tata rangkaian yang ditunaikan pertama sampai terkahir.

e. Wajib Umrah
Wajib umrah merupakan amalan yang kudu dikerjakan, seandainya tidak ditunaikan maka ibadahnya tetap sah namun kudu menganti bersama dengan membayar dam (denda). yang termasuk kudu umrah adalah :
a) Berihram berasal dari miqat
b) Memelihara diri berasal dari tabiat yang terlarang selama ihram.

Back to Top