Sukses Mengusir Babyblues

Sukses Mengusir Babyblues

sat-jakarta.com – Dulu, saat usia kandungannya 4 bulan, Pratiwi Dwiarti (28) alias Tiwi T2, sudah membatasi aktivitasnya di dunia tarik suara. Soalnya, ia pernah mengalami kontraksi cukup hebat. “Kata dokter, saya kecapekan, jadi diminta banyak istirahat,” ucap penyanyi duo T2 ini. Untuk mengatasinya, Tiwi pun bedrest . Ia juga memutuskan tak mau memforsir tenaganya agar kehamilannya bisa berjalan baik. “Itu makanya di usia 7 bulan aku memutuskan untuk setop terima tawaran nyanyi dulu.” “Pengorbanan” Tiwi tak sia-sia.

Akhirnya kehamilan dan persalinannya berjalan lancar. “Sampai sekarang, Reo sudah berumur 6 bulan, saya masih lebih sering di rumah. Terkadang jenuh, tapi kan ada Reo, kami bisa bermain bersama,“ kata Tiwi sembari menyebut nama anaknya, Reo Athar Sakaramoto. Tiwi sengaja tak menggunakan pengasuh. Ia mengurusi semua keperluan Reo. “Stres juga sih, bahkan ada yang bilang aku terkena babyblues,” ujar istri dari Shogo Sakuramoto (36) ini. Namun perasaan ini lebih ke arah protektif, bukan membenci bayi.

Tips Sukses Tiwi Mengusir Babyblues

“Aku tidak mau anakku digendong oleh orang lain selain aku,” kata pelantun lagu “Jangan Lebay” bersama Tika, eks personel T2. Untungnya tak berlangsung lama karena orang-orang terdekatnya memberi nasihat kalau perilakunya tidak baik untuk perkembangan bayinya. Tiwi pun menuruti nasihat itu dan pelan-pelan mulai relaks bila menghadapi Reo digendong orang lain. Terbukti, selama Tiwi dirias, nakita boleh menggendong Reo bahkan menjadi “pengasuh” sesaat.

Reo tampak riang ketika kami ajak bermain. Selain mengasuh Reo, Tiwi menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan rumah seperti memasak, beres-beres, atau membaca buku dan nonton ­ lm. “Oktober tahun lalu juga aku pindahan rumah, jadi banyak kesibukan yang bisa dilakukan,” cerita Tiwi yang belum lama menempati rumah barunya di kawasan Bintaro.

“Itu gunung Fuji!” tunjuk Tiwi pada sebuah foto yang ada di layar teve. Reo belum pernah ke Jepang. “Sekarang masih musim dingin, nanti saja pas musim Sakura, sekitar bulan April.” Reo ingin dikenalkan dengan kakek, nenek, dan saudara-saudaranya di Jepang.

Di rumah, Tiwi terbiasa menggunakan tiga bahasa. “Ayahnya pakai bahasa Jepang, aku bahasa Indonesia, neneknya bahasa Sunda,” jelas Tiwi. Menurutnya, ini sangat baik karena Tiwi ingin Reo mampu menguasai empat bahasa, Indonesia, Jepang, Inggris, dan Mandarin.

Karena sengaja tak menggunakan jasa pengasuh dan asisten, Tiwi pun menyediakan sendiri semua keperluan Reo. Seperti siang itu, usai pemotretan, Reo merengek minta makan. Dengan sigap, Tiwi menyiapkan MPASI. “Yuk, kita makan!” ajak Tiwi kepada Reo.

“Ruri adalah abangku…,” Tiwi melantunkan sebait lagu lawas di depan Reo. Ternyata Reo sangat antusias. Si kecil ini mencoba ikut bernyanyi namun hanya pekikan-pekikan kecil yang keluar. Bernyanyi bersama membuat Tiwi semakin dekat dengan Reo, sekaligus menghilangkan kejenuhan.

Back to Top